Langsung ke konten utama

Teknologi Budidaya Cabe Merah Spesifik Lokasi Kawasan Gunung Lokon

Inventor: Arnold Turang, Louis A. Matindas dan Jen Tatuh.
Tanaman cabe merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Cabe Merah (Capsicum annum L.) merupakan sayuran dengan daya adaptasi yang baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi.

Kawasan Gunung Lokon yang berada pada ketinggian sekitar 650-750 mdpl menjadi daerah pengembangan usahatani hortikultura dan pernah menjadi lokasi klinik agribisnis primatani, memiliki potensi yang baik untuk usahatani Cabe Merah.

Dengan teknologi eksisting, pendapatan petani hanya 1-2 ton/ha. Untuk memenuhi permintaan pasar dan menaikkan produktivitas, cara ini masih terlalu sederhana dan perlu pengungkit yaitu perbaikan teknologi. Perbaikan dilakukan dengan mengorganisir teknologi melalui klinik agribisnis, untuk menghasilkan produksi sebagai keuntungan (Profit), petani akan sukses.

Teknologi Inovasi yang diintroduksikan pada Usahatani Cabe Merak di Kawasan gunung Lokan, meliputi:
a). Penggunaan benih unggul,
b). Menggunakan Mulsa Plastik Perak pada bedengan,
c).Pemupukan Berimbang sesuai PUTK,
d). Pengendalian Hama Terpadu dan
e). Pendampingan dan ketepatan aplikasi saprotan yang dibutuhkan tanaman.

Teknologi mulsa plastik sampai saat ini sudah berkembang di kawasan gunung Lokon, bahkan sudah dirotasi dengan tanaman lain setelah menanam Cabe.

Manfaat plastik mulsa, selain memberikan efek positif dalam pertumbuhan tanaman, juga manfaat dalam menghemat tenaga kerja membuat bedengan.

Hasil dari kegiatan ini dimana biasanya petani panen hanya 5 kali panen tanaman sudah mati, dengan teknologi lama panen sampai 15 kali.

Produksi biasanya hanya 1-2 ton/ha, dengan teknologi melalui klinik Agribisnis, panen sampai 4-5 ton/ha.

Jika harga berlaku untuk Cabe Merah Rp. 15.000/kg maka penerimaan petani dengan teknologi eksisting hanya Rp. 15.000.000. pada lahan sekitar 0,5 hekto are.  Dengan teknologi introduksi penerimaan petani Rp. 60.000.000. pada luasan yang sama. (*artur)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedoman Budidaya Krisan (Chrysanthemum morifolium)

Teknik Perbanyakan Tanaman Tanaman Krisan, dapat diperbanyak dengan: Menggunakan anakan tanaman (seperti pada Krisan Kulo dan Riri. Stek Pucuk atau stek batang. Melalui Kultur Jaringan Teknik perbanyakan disesuaikan dengan kondisi dan varietas serta tujuan produksi bunga. Kebun Induk Jarak tanam yang umum untuk tanaman Induk Krisan adalah 10 x 13 cm dan 13 x 13 cm. Pemupukan dengan pupuk cair 200 ppm N dan 200 ppm K serta berikan penambahan cahaya sekuat100 lux dengan lampu pijar atau TL yang diperlukan terus menerus selama 3-5 jam di tengah malam. Setelah bibit tumbuh tegak kira-kira umur 2 Minggu, lakukan pemangkasan (Pemotesan) pucuk, guna meransang pertumbuhan tunas, calon stek tanaman baru. Stek di kebun bibit harus diambil sesering mungkin agar tanaman induk tidak akan cepat rusak. Untuk tanaman Krisan Standar yang toleran hari netral seperti Riri dan Kulo, bibit yang berasal dari anakan sangat cocok untuk usahatani skala kebutuhan harian, karena bung...

Perbaikan Teknologi Pengolahan Gula Semut Dari Nira Aren

  Oleh:Arnold C.Turang dan GH.Joseph. Aren memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional, bahkan berpeluang ekspor jika diusahakan secara serius dan optimal.  Berbagai produk dapat dihasilkan antara lain gula merah cetak, gula semut, alcohol ,sagu, kolang kaling dan serat ijuk, namun hingga saat ini diversifikasi masih terbatas pada produk konvensional gula cetak. Salah satu upaya peningkatan nilai tambah produk yang bernilai ekonomi adalah pengolahan gula semut.  Secara teknis ketrampilan menyadap nira aren sudah dikuasai , namun cara pengawetan dalam rangka mempertahankan mutu nira dan teknik pengolahan gula semut belum dikuasai secara baik dan optimal.  Umumya penyadapan nira lebih banyak diarahkan pada dominasi pengolahan minuman local Captikus yang berhadar alkohol 30-40%. Nira yang akan diolah menjadi gula semut belum terfermentasi dengan derajat keasaman 6-7.  Introduksi teknologi dimaksudkan untuk memperbaiki cara pengolahan agar...

Penyuluh Sebagai Ujung Tombak Pembangunan Pertanian

Oleh: Arnold C. Turang,SP.  Predikat yang sangat mulia ketika kita menyandang gelar sebagai " Penyuluh ". Penyuluh secara harafia dari kata "suluh" yang bermakna sebagai seberkas cahaya yang menjadi harapan baru ditengah kegelapan. Sehingga mereka yang berada dikegelapan mendapatka sukacita baru dengan hadirnya "Suluh" sebagai sarana untuk saling melihat satu dan yang lain, mengetahui satu dengan yang lain dan berbagi berkat ketika "suluh" itu hadir di kegelapan. "Ujung tombak" : ombak suatu alat yang dilempar dengan kekuatan penuh, dengan bagian ujungnya besi yang sengaja di tajamkan. Bila mengenai sebuah sasaran pasti akan tertancap  bagus. Dalam benak kita mendengar kata ini, adalah tajamnya, bila itu mengenai kita. Bermaknakan penguasaan IPTEK bertalian dengan pembangunan pertanian yang akan dimasukan dalam kegelapan. Penyuluh Pertanian Sebagai Ujung Tombak Pembangunan, merupakan pertalian kata yang indah dan e...